Back to Journal

Love

Becoming Someone I Was Not

i-was-trying-to-be-someone

Tentang usaha menjadi versi lain demi diterima — sampai akhirnya sadar bahwa diri sendiri perlahan tertinggal di tengah jalan.

February 24, 2026116Hymn

Aku rasa yang paling pelan membunuh seseorang bukan selalu kehilangan. Kadang, yang lebih melelahkan adalah berusaha tetap disukai sampai lupa cara menjadi diri sendiri.

Awalnya nggak terasa besar. Cuma mulai menahan beberapa kalimat. Cuma mulai mikir dua kali sebelum membalas pesan. Cuma mulai menyembunyikan bagian yang dulu keluar begitu saja, karena takut terlihat terlalu berisik, terlalu butuh, terlalu peduli, atau terlalu mudah terbaca.

Lama-lama, yang disebut menyesuaikan diri berubah jadi kebiasaan untuk menghapus diri sendiri sedikit demi sedikit.

Aku pernah ada di titik itu. Menjadi lebih tenang dari biasanya. Lebih rapi dari biasanya. Lebih mudah mengalah dari biasanya. Bukan karena tiba-tiba dewasa, tapi karena takut kalau versi asliku datang terlalu penuh, seseorang akan pergi.

Lucunya, waktu itu semua terasa seperti usaha. Seperti bukti bahwa aku serius. Seperti cara paling aman untuk menjaga sesuatu yang tidak ingin hilang.

Padahal yang sedang hilang justru aku sendiri.

Aku mulai membaca diam seperti kode. Membaca perubahan kecil seperti peringatan. Satu balasan pendek bisa membuatku mengulang semua yang sudah kukatakan. Satu sikap dingin bisa membuatku bertanya-tanya bagian mana dari diriku yang harus kupotong lagi.

Dan semakin lama, aku makin ahli menjadi orang lain.

Ada rasa aneh ketika kamu sadar bahwa kamu masih punya wajah yang sama, tapi tidak lagi punya cara hadir yang sama. Kamu masih tertawa, tapi seperti sedang menyesuaikan volume. Kamu masih bicara, tapi selalu ada rem yang kamu tarik diam-diam. Kamu masih terlihat ada, tapi sebenarnya banyak bagian dari dirimu sudah kamu tinggal di belakang.

Yang paling sakit bukan saat semuanya selesai. Yang paling sakit adalah menyadari bahwa selama ini aku tidak benar-benar sedang dicintai sebagai diriku. Aku sedang berharap dicintai sebagai versi yang sudah kurevisi berkali-kali.

Dan versi itu melelahkan. Sangat melelahkan.

Sekarang aku paham, cinta yang membuat kita terus mengecil bukan tempat untuk pulang. Kalau harus menjadi orang lain hanya agar seseorang tetap tinggal, mungkin dari awal yang diterima memang bukan aku.

Mungkin yang paling perlu diselamatkan bukan hubungan itu. Tapi diriku sendiri, yang terlalu lama kubiarkan menunggu di luar pintu.

Comments

Login to leave a public note.

0 comments
Checking session...
Loading comments...

“Every story is part of life's journey”